
Desa Galengdowo, Wonosalam — Sebanyak 14 mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur memulai program Bina Desa Berdampak di Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, pada 4 Mei 2026. Program yang berlangsung selama satu bulan penuh hingga 2 Juni 2026 ini diketuai oleh Dikyi Setiawan di bawah bimbingan tiga Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Suprihatin, M.T., Ir. Caecilia Pujiastuti, M.T., dan Ndaru Adyono, S.Si., M.T., dan disambut langsung oleh Kepala Desa Wartomo, S.Sos.
Sebelum program kerja dijalankan, tim melakukan observasi lapangan selama satu minggu untuk memetakan potensi dan kebutuhan nyata masyarakat di lima dusun — Pengajaran, Galengdowo, Plumpung, Sanggar, dan Wates. Hasil observasi tersebut menjadi dasar perancangan program sosialisasi yang tepat sasaran, termasuk penetapan segmentasi peserta sesuai relevansi tema.
RANGKAIAN SOSIALISASI PROGRAM KERJA

Tim Bina Desa menyelenggarakan dua sesi sosialisasi di Balai Desa Galengdowo. Sesi pertama pada 18 Mei 2026 menghadirkan pelaku UMKM dan kader desa sebagai peserta dengan tema pengolahan limbah durian, sementara sesi kedua pada 20 Mei 2026 ditujukan khusus bagi para peternak kambing dengan tema pengolahan limbah kotoran ternak. Masing-masing sesi dihadiri 15 hingga 20 peserta yang dipilih berdasarkan relevansi tema dengan keseharian mereka.
Setiap sesi sosialisasi dibuka secara resmi dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta sambutan Ketua Tim dan Kepala Desa. Materi kemudian disampaikan melalui presentasi PowerPoint secara komprehensif — mencakup latar belakang, tujuan, manfaat, alat dan bahan, tahapan pengolahan, hingga aspek potensi usaha, strategi penjualan, desain kemasan, dan pemasaran produk. Sesi dilanjutkan dengan praktik langsung yang melibatkan seluruh peserta secara aktif, tanya jawab interaktif, pengisian kuesioner, dan diakhiri sesi dokumentasi.
Pada sosialisasi 18 Mei, tim memperkenalkan dua inovasi dari limbah durian. Pertama, kulit durian diolah menjadi briket melalui proses pengarangan, penggilingan, dan pencetakan sebagai bahan bakar alternatif bernilai ekonomis. Kedua, biji durian diolah menjadi tepung yang dikembangkan menjadi produk pangan unggulan berupa opak japit — camilan tradisional khas yang diproyeksikan sebagai produk lokal andalan Desa Galengdowo. Pada sosialisasi 20 Mei, para peternak diperkenalkan pada teknologi fermentasi kotoran kambing menjadi pupuk bokashi menggunakan effective microorganism (EM4). Selain mengatasi persoalan limbah ternak, bokashi ditawarkan sebagai peluang usaha yang dapat meningkatkan pendapatan peternak sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Respons peserta di kedua sesi sangat positif. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi, mulai dari pertanyaan seputar teknis pengolahan, peluang pasar, hingga potensi kemitraan usaha — mencerminkan minat nyata masyarakat untuk mengadopsi inovasi yang ditawarkan.
HARAPAN DAN KEBERLANJUTAN PROGAM
Kepala Desa Wartomo, S.Sos. menyambut baik seluruh rangkaian program dan berharap inovasi yang diperkenalkan dapat diadopsi secara mandiri oleh warga untuk memberikan dampak berkelanjutan. Ketua Tim Dikyi Setiawan menegaskan bahwa setiap program dirancang berdasarkan hasil observasi lapangan agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar formalitas akademis. Program Bina Desa Berdampak UPN Veteran Jawa Timur di Desa Galengdowo akan terus berlangsung hingga 2 Juni 2026 dengan berbagai kegiatan pendampingan lanjutan sebagai wujud nyata sinergi perguruan tinggi dan masyarakat desa.
Penulis: Tim Bina Desa UPN Veteran Jawa Timur | Editor: Redaksi Website Desa Galengdowo
#BinaDesa #UPNVeteranJawaTimur #DesaGalengdowo #LimbahDurian #PupukBokashi #InovasiDesa
@binadesa_galengdowo2026